Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Bubuk Kopi Olahan Tradisional Sungai Penuh-Kerinci Dan Teh Kayu Aro Menggunakan Metode DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil)

Zikra Azizah, Sestry Misfadhilah, Tenti Sri Oktoviani

Sari


Penelitian tentang skrining fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol bubuk kopi olahan tradisional Sungai Penuh-Kerinci dan teh Kayu Aro telah dilakukan. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dan pengujian antioksidan dilakukan dengan metode DPPH. Jenis tanaman ini diketahui mengandung potensi antioksidan dari senyawa polifenol. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol kopi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik, tanin, dan terpenoid, sedangkan ekstrak metanol teh mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik dan tanin. Nilai Rf yang didapat dari pengujian kromatografi lapis tipis untuk ekstrak metanol kopi adalah 0,59 dan pembanding kofein 0,59, sedangkan nilai Rf ekstrak metanol teh adalah 0,40 dan pembanding kofein 0,44. Pengukuran aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa kedua sampel memiliki aktivitas antioksidan yang lemah dengan nilai IC50 kopi 484,705 µg/mL dan teh 208,87 µg/mL. Vitamin C sebagai pembanding memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan kedua ekstrak metanol dengan nilai IC50 33,075 µg/mL.

Kata Kunci


Kopi; Teh; DPPH; antioksidan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Apak, R., Güçlü, K., Demirata, B., Özyürek, M., Çelik, S. E., Bektaşoğlu, B., Berker K.I., &Özyurt, D. (2007). Comparative Evaluation of Various Total Antioxidant Capacity Assay Applied to Phenolic Compounds with The CUPRAC Assay. Molecules, 12, 1496-1547.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2012). Acuan Sediaan Herbal (Volume 7). Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Cahyani, Y. N. (2015). Perbandingan kadar fenol total dan aktivitas antioksi dan ekstrak metanol daun kopi robusta (Coffea canephora) dan arabika (Coffea arabica). (Skripsi). Jember: Universitas Jember.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.(Edisi I). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Farmakope Herbal Indonesia. (Edisi1). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Hanani, E. (2017). Analisis Fitokimia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia, Penentuan Cara Moderen Menganalisis Tumbuhan. (Edisi II). Penerjemah: Pandinawinata, K. & soediro, I. Bandung: Penerbit ITB.

Kumalaningsih. (2006). Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisarana.

Misfadhila, S., Zulharmita., & Siska, D. H. (2016). Pembuatan Kafein Salisilat Secara Semisintesis dari Bubuk Kopi Olahan Tradisional Kerinci. Jurnal Farmasi Higea,8(2), 175-188.

Molyneux, P. (2004). The Use of Stable Free Radical Diphenylpycrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activiy. Songklanakarin J. Sci Technol, 26(2), 211-219.

Mosquera, O. M. Correa, Y. M. Buitrago, D. C. & Nino, J. (2007). Antioxidant Activity of Twenty Five Plants from Colombian Biodeirvesity. Mem Inst Oswaldo Cruz, Rio de janeiro.102 (5), 631-634

Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tingkat Tinggi. Bandung: Penerbit ITB.

Rusdi. (1988). Tetumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.

Siadi, K. (2012). Ekstrak Bungkil Biji Jarak Pagar (Jatropa curcas) Sebagai Biopestisida Yang Efektif Dengan Penambahan Larutan NaCl. Jurnal MIPA 35(2), 77-83.

Svehla. (1990). Vogel buku teks analisis anorganik kualitatif makro dan semimikro. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.

Tiwari, P., Kumar, B., Kaur, M., Kaur, G. & Kaur, H. (2011). Phytochemical screening and extraction: A review. Internatioanl Pharmaceutica Sciencia, 1(1), 98-106.

Widyaningrum, H. (2011). Kitab Tanaman Obat Nusantara. (Cetakan 1). Yogyakarta: Media pressindo.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.license.cc.by-nc-sa4.footer##