Screening Fitokimia Dan Penetapan Potensi Madu Hutan Sebagai Agen Antibakteri Terhadap Bakteri Propinibacterium Acne dan Staphylococcus Aureus

Krisyanella Krisyanella, Zamharira Muslim, Resva Meinisasti, Putra Adi Irawan

Sari


Madu dapat membantu menekan pertumbuhan bakteri tertentu melalui beberapa mekanisme salah satunya yaitu dari komposisi kandungan senyawa kimia yang berbeda-beda berdasarkan sumber pakan nektarnya. Perbedaan tersebut diduga mempengaruhi perbedaan aktivitas madu sebagai antibakteri. Jerawat adalah peradangan yang terjadi pada kulit akibat adanya infeksi bakteri pada kelenjar minyak yang tersumbat. Bakteri yang umum menginfeksi jerawat adalah  Staphylococcus aureus dan  Propinibacterium acne. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan fitokimia dan uji aktivitas antibakteri madu hutan asli Bengkulu terhadap bakteri P.acne dan S. Aureus. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Pertama ditetapkan dulu kandungan fitokimia sampel madu, kemudian dilanjutkan dengan penetapan aktvitas antibakteri madu hutan terhadap bakteri P. acne dan S. aureus, potensi ini dilihat dari besarnya nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Sampel madu hutan memiliki kandungan metabolit sekunder. Madu A mengandung Alkaloid dan Terpenoid, Madu B mengandung terpenoid, Madu C mengandung Alkaloid, Madu D mengandung Flavonoid dan alkaloid, sementara Madu E dan F mengandung flavonoid. Dari hasil pengujian aktivitas antibakteri sampel madu hutan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus  dan P.acne, namun efek aktibakteri paling baik terhadap bakteri S.aureus, dimana pada konsentrasi terkecil, madu masih memberikan daya hambat pada bakteri S.aureus. Madu hutan mengandung metabolit sekunder dan  lebih berpotensi sebagai agen antibakteri terhadap bakteri S. aureus  dibandingkan dengan pada bakteri P. acne


Kata Kunci


Madu hutan; Staphylococcus aureus; Propinibacterium acne

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Andriani, M., Utami, R., Hariyati, L. F., Teknologi, J., Pertanian, H., & Pertanian, F. (2012). AKTIVITAS ANTIBAKTERI BERBAGAI JENIS MADU TERHADAP BAKTERI PEMBUSUK (Pseudomonas fluorescens FNCC 0071 dan Pseudomonas putida FNCC 0070) ANTIBACTERIA ACTIVITY OF SOME HONEYS TO FOOD SPOILAGE BACTERIA (Pseudomonas fluorescens FNCC 0071 dan Pseudomonas puti. Biomedika, 5(1). https://eprints.uns.ac.id/13215/1/Publikasi_Jurnal_(7).pdf

Asih, I. A. R. A., Ratnayani, K., & Swardana, I. B. (2012). ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN FLAVONOID DARI MADU K ELENGKENG (Nephelium longata L.). Jurnal Kimia (Journal of Chemistry), Vol 6.(1), 72–78.

Cowan, M. M. (1999). Plant products as antimicrobial agents. In Clinical Microbiology Reviews (Vol. 12, Issue 4, pp. 564–582). American Society for Microbiology. https://doi.org/10.1128/cmr.12.4.564

Davis, W. W., & Stout, T. R. (1971). Disc plate method of microbiological antibiotic assay. I. Factors influencing variability and error. Applied Microbiology, 22(4), 659–665. https://doi.org/10.1128/aem.22.4.659-665.1971

Fadhmi, Mudatsir, & Syaukani, E. (2017). PERBANDINGAN DAYA HAMBAT MADU SEULAWAH DENGAN MADU TRUMON TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO. BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi Dan Kependidikan, 3(1), 9. https://doi.org/10.22373/biotik.v3i1.986

Hendra, R., Ahmad, S., Sukari, A., Shukor, M. Y., & Oskoueian, E. (2011). Flavonoid analyses and antimicrobial activity of various parts of Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl fruit. International Journal of Molecular Sciences, 12(6), 3422–3431. https://doi.org/10.3390/ijms12063422

Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A., Brooks, G. F., Carroll, K. C., Butel, J., Morse, S. A., & Mietzner, T. (2013). Medical Microbiology. In Jawetz, Melnick, Adelberg’s (26 interna). Mc Graw Hill Lange. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Munte, L., Max Revolta Runtunewa, & Citraningtyas, G. (2015). AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK DAUN PRASMAN (Eupatorium triplinerve Vahl.). PHARMACON, 4(3), 41–50. https://doi.org/10.35799/pha.4.2015.8836

Parwata, O. A., Ratnayani., K., & Listya, A. (2010). Aktivitas Antiradikal Bebas Serta Kadar Beta Karoten Pada Madu Randu (Ceiba pentandra) Dan Madu Kelengkeng (Nephelium longata L.). Jurnal Kimia, 4(1), 54–62.

Sahputra, A. (2014). Uji Efektifitas Ekstrak Madu Karet Dalam Menghambat Pertumbuhan Staphylococcus aureus. 1–34. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25515/1/ARDIN SAHPUTRA - FKIK.pdf

Sawarkar, H. A., Khadabadi, S. S., Mankar, D.M., F., Arooqui, I. A., & Jagtap, N. . (2010). Development and Biological Evaluation Of Herbal Anti Acne Gel. International Journal Of PharmTechResearch, vol.2, no., 2028–2031.

Schmeller, T., Latz-Brüning, B., & Wink, M. (1997). Biochemical activities of berberine, palmatine and sanguinarine mediating chemical defence against microorganisms and herbivores. Phytochemistry, 44(2), 257–266. https://doi.org/10.1016/S0031-9422(96)00545-6

Taormina, P. J., Niemira, B. A., & Beuchat, L. R. (2001). Inhibitory activity of honey against foodborne pathogens as influenced by the presence of hydrogen peroxide and level of antioxidant power. International Journal of Food Microbiology, 69(3), 217–225. https://doi.org/10.1016/S0168-1605(01)00505-0




DOI: http://dx.doi.org/10.52689/higea.v13i1.327

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.license.cc.by-nc-sa4.footer##